TRANSLATE

01 Oktober 2019

Hati Hati Dengan Zaman Yang Penuh Dusta dan Dosa



Hati-hati Dengan Zaman yang Penuh Dusta dan Dosa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat
.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1- Peringatan akan bahaya zaman yang penuh dusta dan dosa.
2- Hadits ini menunjukkan pentingnya kejujuran dan mengandung peringatan dari bahaya kedustaan.
3- Hadits ini juga menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan memperingatkan dari bahaya mengkhianati amanah.
4- Kewaspadaan terhadap ruwaibidhah yaitu,  orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.
5- Hadits ini menunjukkan bahwa jalan keluar ketika menghadapi situasi kacau semacam itu adalah dengan kembali kepada ilmu dan ulama. Yang dimaksud ilmu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Dan yang dimaksud ulama adalah ahli ilmu yang mengikuti perjalanan Nabi dan para sahabat dalam hal ilmu, amal, dakwah, maupun jihad.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran

1- Peringatan akan bahaya berbicara tanpa landasan ilmu.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (QS. al-Israa’ : 36).

2- Maka barangsiapa yang gemar berbicara mengatasnamakan agama tanpa ilmu, sesungguhnya dia adalah antek-antek Syaitan, bukan Hizbullah dan bukan pula pembela keadilan atau penegak Syari’at Islam!

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 “Hai umat manusia, makanlah sebagian yang ada di bumi ini yang halal dan baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya dia hanya akan menyuuh kalian kepada perbuatan dosa dan kekejian, dan agar kalian berkata-kata atas nama Allah dalam sesuatu yang tidak kalian ketahui ilmunya.” (QS. al-Baqarah : 168-169)Lr

30 September 2019

AKIBAT HARTA YANG DIPAKAI UNTUK MAKSIAT



 Dari Khaulah radhiyallahu 'anha, Rasulullah ﷺ bersabda,
ُ إِنَّ رِجَالًا يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Sesungguhnya ada orang-orang yang mempergunakan harta Allah dengan jalan yang tidak benar; maka bagi mereka neraka pada hari kiamat." HR. Al Bukhari (3118)
▫ Menjelaskan riwayat ini, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menyatakan,
هذا فيه الحذر من التصرف في الأموال بغير حق؛ لأن المال من نعم الله، فالواجب أن يُصرف في وجهه، وأن يؤخذ من وجهه، فمن تصرّف فيه بغير حق، في المعاصي والخمور والفساد و ظلم العباد، فله النار يوم القيامة . نسأل الله العفو والعافية .
"Hadits ini berisikan peringatan agar jangan sampai mempergunakan harta dengan tidak benar. Karena harta merupakan nikmat dari Allah sehingga harus diarahkan pada hal-hal yang benar [ seperti sedekah, menafkahi keluarga, dll ] dan didapatkan dengan cara-cara yang benar.
Maka siapa saja yang menggunakan hartanya secara tidak benar; seperti pada maksiat, miras, membuat kerusakan, dan menzalimi orang lain maka neraka untuknya di hari kiamat. Kita mohon ampunan dan keselamatan pada Allah." (Syarah Kitab Al-Jami', hlm. 120)
TERMASUK DOSA BESAR...!!
Asy-Syaikh Muhammad Al 'Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam Syarah Bulughul Maram (XV/254),
"Mengelola harta dengan cara yang batil hukumnya haram. Bahkan termasuk dosa besar. Sisi pengambilan hukumnya ialah karena mereka yang berbuat demikian diancam dengan neraka."
Hanya pada Allah kita mohon petunjuk.
✍ -- Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
-- Hari Ahadi, (07:29) 21 Jumadil Akhir 1440 / 26 Februari 2019
_____________
▶️ Mari ikut berdakwah dengan turut serta membagikan artikel ini, asalkan ikhlas insyaallah dapat pahala.

05 Desember 2016

Makna Dan Bahayanya Sifat Riya

 


Sifat dan bahaya Riya dalam amal perbuatan kita tidaklah boleh dianggap ringan. Karena Sifat riya segala amal ibadah akan rusak dan Karenanya amal ibadah kita akan menjadi sia-sia. Hal ini dipertegas dalam sebuah Al-Qur'an yaitu yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia". (QS. Al-Baqarah:264).

Karena itu pentingnya kita juga mengenal serta mengetahui akan
macam jenis riya' yang harus kita hilangkan dalam diri kita masing-masing.

Pengertian riya yaitu adalah mengamalkan ibadah dengan niat untuk mendapatkan bagian dunia, baik berupa pujian, harta, kedudukan, wanita, dan semacamnya, dan dia termasuk syirik asghar atau syirik khafi (bagi yang menyamakan keduanya). Inilah yang dimaksud dengan definisi riya itu. Dan hal ini juga tidak beda jauh dengan apa yang dinamakan dengan sum'ah yang kesemuanya bertujuan untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari banyak orang serta manusia.

Ada beberapa yang menjadi penyebab riya yaitu :
1. Merasa senang dengan pujian orang banyak.
2. Serakah dan juga rakus terhadap apa yang terdapat (dimiliki) orang lain.
3. Lari dari berbagai macam celaan.

Dan yang termasuk dalam bahaya riya diantaranya yaitu :
1. Merupakan sifat orang-orang munafik. (QS. an-Nisa’: 142).
2. Termasuk salah satu dosa besar.
3. Mendatangkan dan menyebabkan kemurkaan Allah Ta'ala.
4. Dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, bahkan neraka pertama kali akan dipanaskan bagi para pelaku riya’. (HR. Muslim)
5. Dapat menghapuskan amalan yang dikerjakan seseorang.
6. Pelakunya akan dipermalukan di hadapan makhluk seluruhnya pada hari kiamat.
7. Merupakan dosa yang paling ditakuti oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. (HR. Ahmad)
8. Mengubah amal saleh menjadi amal buruk, seharusnya pelakunya mendapatkan pahala dari amalannya, namun sebaliknya ia malah mendapat dosa karena riya’-nya.

Pelaku riya` ini, tatkala di dunia dia ingin mendapatkan pujian dan penghormatan dari orang karena ibadahnya, maka pada hari kiamat Allah akan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk dengan menyuruhnya untuk mencari pahala amalan kepada makhluk yang dia harapkan pujiannya di dunia. Tidak cukup sampai di situ, setelah Allah Ta’ala mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk, Allah Ta’ala langsung mencampakkan para pelaku riya` ini ke dalam jahannam.
Semoga kita semuanya dijauhkan dari sifat riya dan munafik aamiin.

Berikut adalah beberapa macam-macam riya yang diulas oleh Abu Hamid al-Ghozzali rahimahullah yaitu :
1. Riya Anggota Badan .
Hal ini bisa terlihat dan nampak pada perilaku seseorang yang menampakkan kekurusan badan dan muka pucat agar dikira begitu bersemangat beribadah, begitu besar kekhawatirannya terhadap agama dan sangat takut kepada akhirat.

2. Riya Dengan Pakaian .
Hal ini dilakukan seseorang dengan cara seperti halnya dengan membiarkan rambut acak-acakan, membuat-buat bekas sujud di wajah, mengenakan pakaian tebal, tidak membersihkan baju dan membiarkannya rusak atau berlubang. Semua itu ia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya mengikuti sunnah.

3. Riya' Dengan Ucapan .
Hal ini terjadi pada diri orang-orang yang suka memberi nasihat, peringatan, menyampaikan hikmah, riwayat dan atsar, ketika disampaikan dengan niat untuk menampakkan derasnya ilmu yang ia miliki. Bisa juga dengan menyibukkan diri dengan berzikir, amar makruf dan nahi munkar di hadapan manusia (dengan niat agar dilihat orang lain).

4. Riya Dengan Amalan .
Seperti riya’-nya orang yang mengerjakan salat dengan memanjangkan berdiri, ruku’, sujud dan lain-lain (dengan niatan untuk dipuji oleh orang lain).

5. Riya’ Dengan Teman dan Tamu.
Seperti meminta kepada seorang ulama untuk berkunjung ke rumahnya agar dikatakan bahwa Syaikh fulan telah mengunjunginya.

Berikut bebepapa tips cara menghilangkan sifat riya yaitu : keagungan Allah Ta'ala. diperuntukkan untuk dunia dan mengetahui jenis-jenis riya’ serta faktor-faktor pendorong perbuatan riya’. dunia. telah Allah persiapkan untuk akhir kehidupan yang sesungguhnya.

Nah, demikian beberapa bahaya Sifat Riyaa. Mudah mudahan kita semua di jauhkan dari ini, aamiin aamiin YaRabbal 'alamin

Jangan lupa di Share ya agar teman atau saudara kita yang lain mendapat manfaatnya pula dari artikel ini. Insyaallah.

Wassalam

SHOLAT ADALAH TOLAK UKUR SEMUA AMAL