TRANSLATE

28 Oktober 2016

Sibuta Yang Membuatku Dapat Melihat

Postingan Ummu kali ini yaitu sebuah kisah dari seorang sahabat yang mendapat hidayah dari seorang bapak dan anaknya yang buta.Berikut kisahnya...
Usiaku belumlah tiga puluh tahun ketika istriku melahirkan anak pertamaku, aku tidak pernah memperhatikan istriku, setiap malam aku habiskan waktuku bersama kawan-kawanku; begadang sampai pagi.  Setiap malam kami habiskan waktu dengan tawa dan banyolan-banyolan yang tidak berguna.

Aku ingat suatu malam aku berlaku usil kepada seorang buta yang sedang berjalan di pasar, aku menaruh kakiku di depannya lalu ia tersandung dan jatuh, keusilanku itu menjadi bahan tertawaan yang memenuhi pasar.

Seperti biasanya aku telat pulang ke rumah, aku melihat istriku menunggu, tampak keletihan di wajahnya, dengan air mata yang meleleh dia berkata 'Rasyid..! Aku lelah sekali, sepertinya waktu melahirkan sudah hampir tiba.'

Aku baru sadar bahwa kehamilan istriku telah mencapai bulan kesembilan, aku membawanya ke Rumah Sakit.  Istriku berperang melawat rasa sakit, selang beberapa jam kemudian lahirlah anakku yang diberi nama 'Salim'.

Ketika aku akan melihat anakku, aku diminta untuk menghadap Dokter yang mengurus proses persalinan istriku.  Dokter itu memberitahukan kepadaku tetang musibah yang terjadi dan menyuruhku rela terhadap takdir, "Anak anda mengalami cacat yang parah di kedua matanya dan tampaknya dia tidak bisa melihat."

Aku menundukkan kepalaku, dunia ini terasa runtuh, yang terbersit di ingatanku adalah orang buta yang aku jegal kakinya dan mejadi bahan tertawaan orang-orang di pasar; maha suci Allah, siapa yang menanam pasti akan menuai.

 Hari terus berlalu, istriku yang sabar dan percaya terhadap takdir Allah memelihara Salim dengan penuh kasih sayang dan telaten, sedangkan aku tidak terlalu memperhatikan Salim, aku menggaggapnya tidak pernah ada di rumah.

 Salim semakin hari semakin bertambah besar, ketika usianya menginjak satu tahun, dia mulai belajar berjalan, namun agak sedikit aneh; akhirnya kami tahu ternyata dia juga pincang, dadaku makin bertambah sesak.

 Waktu terus berlalu, istriku telah melahirkan anakku yang kedua 'Umar,' dan yang ketiga 'Khalid.'

Seiring bertambah Usia Salim dan kedua saudaranya, sementara aku belum berubah, aku tidak suka berdiam di rumah, hari-hari kulalui bersama kawan-kawanku, istriku tidak pernah putus asa meluruskanku, dia senantiasa berdo'a agar aku mendapatkan hidayah, dia tidak pernah marah melihat kelakuan burukku, akan tetapi dia sering terlihat sedih melihatku menyia-nyiakan Salim dan lebih peduli terhadap kedua adiknya.

Istriku menyekolahkan Salim ke salah satu sekolah khusus orang cacat (SLB).

 Pada suatu hari Jum'at aku terbangun pada jam sebelas siang, hari masih telalu pagi bagiku, aku diundang ke sebuah resepsi, aku mandi, ganti baju, memakai parfum dan siap pergi. Aku melewati ruang tamu, aku terhenti ketika melihat Salim menangis dengan keras, ini pertama kali aku merespon tangisan salim setelah kurang lebih sepuluh tahun aku tidak memperdulikannya! Aku berusaha pura-pura tidak tahu tetapi tidak bisa, aku mendekatinya, "Salim kenapa kamu menangis?" tanyaku.

 Ketika mendengar suaraku, dia berhenti menangis dan meraba-raba sekelilingnya. Dia berusaha menjauh dariku seakan-akan dia berkata kepadaku, "Sekarang kamu peduli kepadaku, ke mana kamu selama sepuluh tahun ini?"

 Aku membuntuti masuk ke kamarnya, awalnya dia menolak memberitahukan kepadaku kenapa dia menangis, aku berusaha berlaku lembut kepadanya, akhirnya Salim mau juga mejelaskan kepadaku mengapa dia menangis, Salim mengatakan bahwa hari ini Umar terlambat datang untuk mengantarkannya pergi ke Masjid, dan hari ini adalah hari Jum'at; dia khawatir tidak mendapatkan tempat di barisan pertama, aku mulai memandangi air mata yang jatuh dari kedua matanya yang buta dan aku benar-benar terguncang saat itu!

 Aku tidak mampu menguasai diriku untuk mendengarkan sisa kalimatnya, aku meletakkan tanganku di mulutnya, aku lupa teman-temanku, aku lupa tentang udangan resepsi dan aku berkata, "Salim jangan sedih, tahukah kamu siapa yang akan pergi bersamamu ke masjid hari ini?"

"Sudah pasti Umar, akan tetapi dia telat hari ini," ujar Salim dengan sedih.

 "Tidak aku yang akan pergi bersamamu," hiburku. Salim kaget tidak percaya dia mengira aku mengejeknya lalu dia menangis lagi. Kuusap air matanya dengan tanganku. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil akan tetapi dia menolaknya, "Masjidnya dekat, aku ingin jalan kaki ke sana."
 Aku berjalan di sisinya, aku merasa betapa kecilnya diriku dan betapa besarnya dosaku, aku tak ingat lagi kapan aku terakhir masuk ke masjid, aku merasa takut dan menyesali apa yang aku lalaikan beberapa tahun ini.

Hari itu masjid penuh dengan jamaah, akan tetapi aku heran melihat ada tempat kosong di barisan pertama yang khusus disiapkan untuk Salim.

 Setelah shalat Jum'at selesai, Salim meminta mushaf Al-Qur'an kepadaku, aku merasa aneh bagaimana dia akan membaca padahal dia buta? takut perasaannya terluka aku mengambilkan mushaf untuknya. Dia memintaku membukakan surah Al-Kahfi, aku mulai membolak-balik mushaf sambil sesekali melihat daftar isi, sampai aku menemukannya dan meletakkan mushaf di depannya. Dia mulai membaca surah Al-Kahfi dengan mata terpejam.

 Yaa..! Allaah..! dia hafal surah Al-Kahfi dengan lengkap, aku merasa malu, seluruh sendi-sendiku serasa bergetar, aku berdo'a kepada Allah Ta'ala; semoga Dia mengampuniku dan memberiku hidayah, aku tidak mampu mengusai diriku, aku menangis seperti anak kecil, aku mencoba menyembunyikan tangisku tetapi tidak bisa; malah aku menjadi terisak-isak, aku tidak sadar, sampai tangan-tangan kecil menyentuh wajahku dan mengusap air mataku, dia adalah Salim anakku. Aku memeluknya dan memandangnya, hatiku bergumam, "Bukan kamu yang buta, nak, sebaliknya akulah yang buta, tatkala aku terlena mengikuti kawanku yang menjerumuskan aku ke Neraka."

Kami pulang ke rumah, Istriku gelisah memikirkan Salim, tetapi kegelisahannya itu berganti dengan air mata bahagia ketika dia tahu aku shalat Jum'at bersama Salim.

 Sejak saat itu aku tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah di masjid, aku meninggalkan kawan-kawan bajinganku, dan sekarang aku mempunyai banyak teman baik yang aku kenal di masjid, aku mulai merasakan manisnya iman bersama mereka. Aku selalu membasahi lidahku dengan zikir, dengan pengharapan semoga Allah mengampuni dosa-dosaku selama ini, aku bertambah dekat dengan keluargaku, senyum tidak pernah lepas dari keelokan wajah anakku Salim, siapa yang menyangka bahwa dia memiliki dunia dengan segala isinya, aku memuji Allah atas segala nikmat-Nya.

 Suatu hari, teman-temanku di masjid bertekad pergi ke salah satu daerah yang jauh untuk berdakwah, aku beristikharah kepada Allah dan berunding dengan istriku dan dia sangat senang, tak lupa aku memberitahukan kepada Salim anakku akan hal ini, dan dia memeluk aku dengan lengannya yang kecil, sebagai salam perpisahan.

Aku pergi dari rumah selama tiga bulan setengah, selama itu setiap ada kesempatan; aku selalu menghubungi istri dan anak-anakku untuk mengobati kerinduan terhadap keluargaku, terutama kepada Salim, aku berharap bisa mendengar suaranya, sebab dialah satu-satunya anakku yang tidak berbicara kepadaku sejak kepergianku, tiap kali aku menceriterakan kerinduan terhadap Salim kepada istriku, dia selalu tertawa bahagia, hanya saja kali terakhir aku menelpon istriku, aku tidak mendengar tawa seperti biasanya, suaranya berubah, ketika aku berkata, "Sampaikan salamku kepada Salim," dia hanya menjawab, "Insya Allah," dan diam.

 Akhirnya aku pulang ke rumah, aku mengetuk pintu dan berharap Salim yang akan membukakan pintu untukku, ternyata bukan Salim melainkan anakku Khalid yang usianya tidak lebih dari empat tahun, dia berteriak "Ayah... Ayah..!"

Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dadaku terasa sesak saat masuk ke dalam rumah aku membaca _Ta'awuz,_ meminta perlindungan kpd Allah, istriku datang menjumpaiku, raut wajahnya tidak seperti biasanya, "Apa yang terjadi?" Tanyaku kemudian, "Tidak ada apa-apa," jawabnya singkat. Seketika aku teringat Salim, "Mana Salim?" istriku tidak menjawab dia menundukkan wajahnya dan air mata bercucuran membasahi pipinya, saat bersamaan dengan suara terbata-bata Khalid berkata, "Ayah, Salim telah terbang ke Surga ke sisi Allah!"

Istriku tidak bisa menguasai situasi, dia menangis meratap dan hampir terjatuh ke tanah, akhirnya aku tahu Salim terkena demam dua minggu sebelum kepulanganku, istriku membawanya ke rumah sakit namun tidak tertolong hingga nyawanya melayang.

 Aku menyadari bahwa apa yang terjadi adalah ujian Allah, aku harus menerima semua ini, memuji Allah dan aku tidak pernah memuji Allah terhadap kesulitan yang kuhadapi kecuali terhadap kejadian ini. Alangkah sedih hatiku berpisah dengan Salim, masih terasa tangannya mengusap air mataku dan kedua lengannya merangkulku. Salim tidak buta, akulah yang buta saat terlena bersama teman-temanku dan Salim tidak pincang karena dia mampu melalui jalan keimanan, sekarang aku baru sadar bahwa aku menyayanginya melebihi saudara-saudaranya, karena dialah yang menjadi penyebab aku mendapatkan petunjuk.

 Dia anak buta yang menuntun ayahnya ke masjid dan mengalahkan setan dalam diriku dengan keikhlasannya.

 Yaa Allaah.., terimalah Salim anakku dalam naungan kasih sayang-Mu. Yaa Allaah.. Aku memohon kepada-Mu keteguhan hati sampai mati. Yaa Allaah, kumpulkanlah aku bersamanya di surga-Mu dan ampunilah aku, Engkau Dzat yang Maha Suci..

Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah yang maha pengampun,Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

26 Oktober 2016

Cara Menghentikan Mimisan Agar Tidak Berakibat Fatal

Kali ini Ummu memposting sebuah kisah yang terjadi tentang anak tetangga yang masih berumur 2 tahun mimisan dibawa ke rumah sakit tapi sungguh tragis sesampai dirumah sakit si anak sudah meninggal.

Berikut kisahnya...

Seorang anak kecil berusia 2 tahun sedang bermain main di dalam rumah, tiba tiba hidungnya mengucurkan darah ( mimisan ). Dengan sigap segera ibu dari anak kecil ini langsung memberi pertolongan pertama menyuruh anaknya mendongak ke atas dan menggunakan tissue untuk menyumbat hidung . Tidak lama kemudian anak itu tampak kesulitan bernafas lalu mulai bernafas melalui mulut serta tiba tiba jatuh pingsan . Sang ibu langsung melarikannya ke rumah sakit . Setelah pemeriksaan, dokter yang menangani meminta maaf dan berkata : " Momen berharga untuk pertolongan pertama sudah terlewati, maaf anak ibu sudah tidak dapat ditolong lagi . " Sang ibu langsung pingsan setelah mendengarnya. Dokter menyatakan bahwa mendongakan kepala pada saat mimisan akan membuat darah justru mudah mengalir masuk kedalam saluran pernafasan .     Hal ini akan menyebabkan kesusahan utk bernafas. Apabila setelah terjadi benturan terjadi mimisan, maka kemungkinan cairan yg mengalir adalah cairan serebrospinal akibat luka pada bagian tengkorak. Jika menyumbat hidung akan membuat saluran ini mudah terkena infeksi.

Nah bagaimana jika anak kita mimisan, langkah langkah apa saja yang harus diperhatikan untuk menolongnya?

1 . Kompres dengan air dingin.
Jika darah yang keluar sedikit , ayah dan bunda dapat menggunakan kantong es atau handuk yang di rendam dalam air dingin untuk mengompres bagian dahi dan leher. Dapat juga menggunakan air dingin / air es untuk kumur kumur, tujuannya adalah agar pembuluh darah agak mengkerut dan mengurangi darah yang mengucur

2 . Metode menekan hidung . Langkah langkahnya sebagai berikut , ayah dan bunda dapat menggunakan jari jempol dan jari telunjuk menekan / memencet hidung selama 10 – 15 menit ( jika ada salah satu lubang hidung tertentu yang mengeluarkan darah maka dapat langsung menekan lubang hidung tersebut ) . Saat menekan dan memencet hidung, anak berada pada posisi duduk dan kepala agak sedikit maju serta menunduk . Mulut terbuka agar dapat bernafas . Ingat ! Jangan angkat atau dongakkan kepala. Karena darah yang mengucur akan mudah tertelan , serta akan menyebabkan lambung terasa mual , ingin muntah , dan lain lain . Bahkan jika darah yang mengucur banyak, maka darah dapat mengalir ke paru paru

3 . Segera bawa ke Rumah Sakit.
Setelah melakukan langkah langkah di atas namun darah masih tidak kunjung berhenti atau darah yang keluar malah semakin banyak, wajah anak terlihat pucat, keluar keringat dingin, jantung berdetak kencang, dan lain lain, maka sesegera mungkin larikan anak ke rumah sakit. Perhatikan apabila anak sering mimisan, sebaiknya minta dokter uutuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendiagnosa apakah hidung anak terkena infeksi atau ada benda asing di lubang hidung , ataukah mungkin ada tumor di lubang hidung atau di saluran pernafasan atau bahkan menderita penyakit yang menyerang pembuluh darah.

4 . Perhatikan makanan
Ketika terjadi mimisan, jangan mengkonsumsi makanan atau minuman yang panas. Sebaiknya mengkonsumsi makanan yang dingin mengandung banyak protein, vitamin serta zat besi Seperti : susu, jus buah buahan dan lain lain. Atau makan makanan yang berkuah ( cairan ), seperti : bubur. Hindari rokok, minuman beralkohol, makanan pedas dan makanan yang padat atau keras . Perbanyak makan sayur sayuran dan buah buahan.

5 . Cegah dehidrasi pada saat musim kemarau.
Anak kecil akan lebih mudah mimisan. Boleh memasang mesin penambah kelembaban udara (Humidifier)  dan ajarkan si kecil mengkonsumsi air lebih banyak.

6 . Jangan mengorek hidung Terlalu sering mengorek hidung akan membuat lapisan pelindung di dalam hidung mudah terluka.
Ayah dan bunda sebaiknya mengajari anak anak agar tidak terlalu sering atau melarang mereka dari kebiasaan mengorek ngorek hidung .
Hal ini harus benar benar diperhatikan cara menghentikan darah yang mengucur ketika mimisan! Kalau tidak bisa jadi berakibat fatal !!!

Terakhir, semoga bermanfaat dan jangan lupa bagikan artikel ini agar lebih banyak orang mengetahui cara yg benar menghentikan mimisan !!!

Wassalam

25 Oktober 2016

Syafa'at Al Qur'an di Dalam Kuburan

Pada postingan berikut ini Ummu yakin para sahabat dan saudara saudari semua pasti  merinding membaca artikel ini. Berikut kisah tentang Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur.

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga."

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.

Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan  permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Ya Allah… terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.

Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah Subhana wa Ta'ala... Aamiin

Sayang kalau dibaca sendiri... Ayo berbagi dan sebarkan

Semoga bermanfaat dan Wassalam

SHOLAT ADALAH TOLAK UKUR SEMUA AMAL