TRANSLATE

06 November 2019

CELANA CINGKRANG, RADIKAL ATAU NGIKUT NABI S.A.W



CINGKRANG, RADIKAL ATAU NGIKUT NABI....?

Abu Ubaidah As Sidawi

Untukmu yang berkoar, mengoceh dan memandang rendah celana cingkrang dan menganggapnya ciri radikal, renungkanlah hadits hadist berikut yang menggambarkan sifat pakaian Nabi Muhammad yang diri kalian mengaku cinta kepada beliau.

إزاره إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ

“(Ujung) sarung Rasulullah hingga tengah kedua betis beliau.” (HR at-Tirmidzi dalam asy-Syama’il dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syama’il al-Muhammadiyyah (no. 97).

Dan hadits Abu Juhaifah:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ وَعَلَيْهِ حُلَّةً حَمْرَاءَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَرِيْقِ سَاقَيْهِ

“Saya melihat Rasulullah memakai baju merah, seakan-akan saya melihat putih kedua betis beliau.” (HR al-Bukhari (no. 633)

Tanyakan dengan hati nuranimu dan jawablah dengan jujur:
Seandainya engkau melihat Nabi berpakaian cingkrang seperti itu, beranikah dirimu berceloteh bahwa beliau adalah radikal?! Beranikah engkau melarangnya berpakaian seperti itu?! Beranikah engkau mencibir beliau?!

Jika engkau menjawab: Ya, aku berani, maka alangkah rusaknya akhlakmu dan kurang ajarnya dirimu!!
Dan jika engkau menjawab: Tidak, mana mungkin aku berani seperti itu. Lantas, atas dasar apakah engkau mencibir orang yang ingin meneladani Nabimu? Iman macam apa yang ada di hatimu jika engkau justru menganggap risih orang yang menjalankan sunnah Nabimu?!

So, jika memang dirimu belum bisa meneladani Nabimu dalam berpakaian, setidaknya jangan menjadi musuh sunnah Nabimu dan melarang orang yang mau menerapkannya?! Sungguh berat urusannya kelak di akherat karena engkau akan berhadapan dengan Rabbmu di pengadilan akherat. Ngeri....aku membayangkannya....

Semoga Allah menetapkan kita semua di atas Islam dan sunnah. Amin.

✍🏻 Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

05 November 2019

BERBAGAI CARA SELINGKUH DI DUNIA MAYA



"PERSELINGKUHAN DI DUNIA MAYA CENDERUNG TERJADI KHUSUSNYA FACEBOOK DI AWALI DENGAN HAL YANG SEPELE''
.
Hanya sebatas sering jempolin status dan komentarnya.
Lama lama jempolin foto fotonya.

Lalu bercanda ria di kolom komentar.
Semakin hari semakin akrab.

Dia gak online tiba tiba merasa rindu.

Ahirnya nyelonong masuk ke inbok dan tanya nama IG dan Tanya pula nomor HP biar bisa Whatsapp-an juga.

Ujung ujungnya salah satu dari mereka berkata:
"Kenapa ya kita tidak dipertemukan dari dulu padahal kamu adalah orang yang paling bisa ngertiin aku"
Lalu ketemuan di dunia nyata.

Bencana hati pun tak terhindarkan.

Mulai sibuk merhatiin dia daripada merhatiin pasangan sendiri, lebih sering hubungi dia daripada hubungi pasangan sendiri.

Ketenangan hati mulai terusik, konsentrasi untuk meraih sukses jadi buyar, niat untuk mewujudkan keluarga abadi dan kekal dengan pasangan sudah menipis di gerogoti nafsu birahi.
Hatinya menghitam karna sering berdusta, telinganya menjadi tuli tidak mendengar nasehat baik, matanya jadi rabun terilusi dengan rasa penasaran, fikirannya menjadi tumpul tertindih oleh harapan semu.

Pasangannya menangis, orang tua dan mertua ikut bingung, anak anaknya jadi rewel, para tetangga mulai menggosip.
Padahal dengan yang baru belum tentu lebih bahagia.
Mereka hanya dipermainkan dunia dan disibukkan dengan hal hal yang tak membawa ketenangan.
Hidup ini berharga dan hanya 1 masa, janganlah kita gunakan untuk menumpuk dosa.
Sebelum kehancuran itu terjadi, selamatkan hatimu, selamatkan keluargamu dan selamatkan dirimu dari godaan yang akan menjerumuskanmu.
Semua cobaan itu pada hakekatnya ilusi, fana dan perangkap..
Semoga bermanfaat...

Bagikan agar jadi peringatan untuk semua....

Intinya : Jagalah Mata dan Jagalah Hati

KISAH NYATA, JAHANNAM SETELAH 300 KM

JAHANNAM SETELAH 300 KM

Aku mengenal seorang pemuda yang dulu termasuk orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Dulu dia bersama dengan teman-teman yang buruk sepanjang masa mudanya. Pemuda itu meriwayatkan kisahnya sendiri :

“Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, aku dulu keluar dari kota Riyadh bersama dengan teman-temanku, dan tidak ada satu niat dalam diriku untuk melakukan satu ketaatanpun untuk Allah, apakah untuk shalat atau yang lain.”

“Alkisah, kami sekelompok pemuda pergi menuju kota Dammam, ketika kami melewati papan penunjuk jalan, maka teman-teman membacanya “Dammam 300 KM”, maka aku katakan kepada mereka aku melihat papan itu bertuliskan “Jahannam, 300 KM” Merekapun duduk dan menertawakan ucapanku. Aku bersumpah kepada mereka atas hal itu, akan tetapi mereka tidak percaya. Maka merekapun membiarkan dan mendustakanku.

Berlalulah waktu tersebut dalam canda tawa, sementara aku menjadi bingung dengan papan yang telah kubaca tadi. Selang beberapa waktu, kami mendapatkan papan penunjuk jalan lain, mereka berkata “Dammam, 200 KM”, maka kukatakan “Jahannam, 200 KM”, Merekapun menertawakan aku dan menyebutku gila. Kukatakan : “Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya aku melihatnya bertuliskan “Jahannam, 200 KM”
Merekapun menertawakanku seperti kali pertama. Dan mereka berkata : “Diamlah, kamu membuat kami takut.” 
Akupun diam, dalam keadaan susah, yang diliputi rasa keheranan aku memikirkan perkara aneh ini.

Keadaanku terus menerus bersama dengan pikiran dan keheranan, sementara keadaan mereka bersama dengan gelak tawa, dan candanya, hingga kemudian kami bertemu dengan papan penujuk jalan yang ketiga. 
Mereka berkata : “Tinggal sedikit lagi “Dammam, 100 KM”  Kukatakan : Demi Allah yang Maha Agung, aku melihatnya 
“Jahannam, 100 KM”  Mereka berkata : “Tinggalkanlah kedustaan, engkau telah menyakiti kami sejak awal perjalanan kita.” Kukatakan : “Turunkan aku, aku ingin kembali.” 
Mereka berkata : “Apakah engkau sudah gila?” 
Kukatakan: “Turunkan aku, demi Allah, aku tidak akan menyelesaikan perjalanan ini bersama kalian.” 
Maka merekapun menurunkanku, akupun pergi ke arah lain dari jalan tersebut. Akupun tinggal di jalan itu beberapa saat, dengan memberikan isyarat kepada mobil-mobil untuk berhenti, tetapi tidak ada seorangpun yang berhenti untukku. Selang beberapa saat, berhentilah untukku seorang sopir yang sudah tua, akupun mengendarai mobil bersamanya. Saat itu dia dalam keadaan diam lagi sedih, dan tidak berkata-kata walaupun satu kalimat.

Maka kukatakan kepadanya : “Baiklah, ada apa dengan anda, kenapa anda tidak berkata-kata?” 
Maka dia menjawab : “Sesungguhnya aku sangat terkesima dengan sebuah kecelakaan yang telah kulihat beberapa saat yang lalu, demi Allah aku belum pernah melihat yang lebih buruk darinya selama kehidupanku.” 
Kukatakan kepadanya : “Apakah mereka itu satu keluarga atau selainnya?” Dia menjawab : “Mereka adalah sekumpulan anak-anak muda, tidak ada seorangpun dari mereka yang selamat”. Maka dia memberitahukan kepadaku ciri-ciri mobilnya, maka akupun mengenalnya, bahwa mereka adalah teman-temanku tadi. Maka akupun meminta kepadanya untuk bersumpah atas apa yang telah dia katakan, maka diapun bersumpah dengan nama Allah.

Maka akupun mengetahui bahwa Allah telah mencabut roh teman-temanku setelah aku turun dari mobil mereka tadi. Dan Dia telah menjadikanku sebagai pelajaran bagi diriku dan yang lain. Akupun memuji Allah yang telah menyelamatkanku di antara mereka.”

Syaikh Abu Khalid al-Jadawi berkata: “Sesungguhnya pemilik kisah ini menjadi seorang laki-laki yang baik. 
Padanya terdapat tanda-tanda kebaikan, setelah dia kehilangan teman-temannya dengan kisah ini, yang setelahnya dia bertaubat dengan taubat nashuha.”

Maka kukatakan : “Wahai saudaraku, apakah engkau akan menunggu kehilangan empat atau lima teman-temanmu sampai kepada perjalanan seperti perjalanan ini? Agar engkau bisa mengambil pelajaran darinya? Dan tahukah kamu, bahwa kadang bukan engkau yang bertaubat karena sebab kematian teman-temanmu, melainkan engkaulah yang menjadi sebab pertaubatan teman-temanmu karena kematianmu di atas maksiat dan kerusakan.” 
Na’udzu billah.

Ya Allah, jangan jadikan kami sebagai pelajaran bagi manusia, tetapi jadikanlah kami sebagai orang yang mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka, dan dari apa saja yang terjadi di sekitar kami. Allahumma Amin.”
(Abu Khalid al-Jadawy)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

"Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun."
(Hadits ini shahih.Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

SUPAHKAN DI SHARE DAN SEMOGA MENJADI PELAJARAN BAGI KITA SEMUA UNTUK SELALU BERBUAT KEBAIKAN.

SHOLAT ADALAH TOLAK UKUR SEMUA AMAL